Jumat, 09 Oktober 2009

Aini melihat padaku dan memberi aba – aba untuk diam. Tapi aku ga bisa…aku mengacuhkan semuanya.

“Ga mau ngapa2in gwe. Gwe Cuma mau liat keadaan lo. Gwe seneng lo masih idup tapi gwe ga suka liat lo begini, ngerti?”, jawabku.

Tak disangka – sangka, Kak Ajeng membalas ucapanku.

“Ngapain lo care sama gwe? Lo dah bawa cewek kerumah kita. Lo kenapa sakitin gwe?”, tanyanya.

“Gwe ga ada niat nyakitin lo…”. Jawabku.

Aku kehilangan kata – kata, tak terasa airmataku mengalir. Aku teringat Bho. Aku…..

“Kenapa Lo diem Hah? Gwe sayang ma lo, gwe rela kehilangan semuanya demi lo. Gwe rela, kenapa lo begitu?”, tanyanya.

Aku Cuma bisa diam. Tangisku semakin menjadi. Aku merasa, Kak Ajeng sedang merasakan yang aku rasakan. Seolah – olah dia tau isi hatiku.

“Lo mau tau pengorbanan gwe buat lo? Oke….lo liat..liat baik – baik”, ujar Kak Ajeng.

Aku menengadahkan kepalaku, berusaha melihat yang terjadi, Cuma itu terlalu cepat untukku.

Kak Ajeng melemparkan botol kaca ke lantai, mengambil pecahannya dan menggenggamnya erat – erat. Aku Cuma bisa diam, tangisku semakin menjadi. Aini Cuma bs diam, entah apa yang dilakukannya. Sementara yang lain, aku Cuma bisa mendengar Wati terisak – isak di depan kamarnya.

Kak Ajeng membuka genggamannya, Kaca itu dijatuhkannya ke lantai dan aku melihat darah disana. Aku langsung lemas, terduduk ditempatku berdiri.

“Kau liat kan Ai. Ai mampu kan. Gak sakit..tuh liat darahnya Ai, cantik kan Ai?”, tanya Kak Ajeng.

Aku menangis sejadi – jadinya. Aku ingat semuanya. Ingat teman – teman kantorku, ingat teman – teman guildku. Aku terpaku. Aku ga mampu bicara apapun. Yang aku pikirkan hanya sesuatu di perutku. Rapuh dan hanya bisa bergantung padaku. Aku penentu keputusan, akan dibawa kemana hidupku. Sungguh, Aku ga mau seperti Kak Ajeng.

“Duuhhh..sakit niy”, ujar Kak Ajeng membuyarkan lamunanku.

Kak Ajeng terbangun dan tiba – tiba dia terjatuh lemas. Aku segera bangun dan menghampirinya. Aini langsung lari ke kamarnya entah untuk apa. Lina langsung menghampiri Wati yang terduduk lemas di depan kamarnya. Aku….aku mengangkat kepala Kak Ajeng, menepuk2 wajahnya, mengharapkan dia sadar segera.

Aini tiba – tiba datang membawa kotak P3K. Aku tertegun. Tangisku belum reda ketika Aini memberikan sesuatu ke arah hidung Kak Ajeng dan tak lama setelah itu, Kak Ajeng sadar…

“Vie, kenapa nangis??”, tanyanya dengan suara parau.

Aku tak bisa menjawabnya, Aku Cuma bisa menangis. Melihatnya keheranan, membuat tangisku semakin menjadi.

“Vie mau minta maaf. Maaf. Vie ga bisa, Vie ga mau kayak gini. Vie ga mau kayak Kak Ajeng”, ujarku.

Aini heran, Kak Ajeng yang belum sadar betul langsung bangun dan duduk menghadapku.

“Ini kenapa berantakan?? Kakak ngamuk lagi yaa? Duuhh..sakit”, ujar Kak Ajeng.

“Ya, diem dulu Kak. Aini obatin dulu luka Kakak”, jawab Aini.

“Vie kenapa?”, tanya Kak Ajeng.

Aku diam seribu bahasa. Aku bingung. Akhirnya, diputuskan bahwa malam itu kami kumpul di kamarku. Aku menjelaskan dari awal kedatanganku ke Samarinda sampai hal itu terucapkan dari mulutku. Kak Ajeng dan Wati langsung memelukku, Aini menangis sambil memaki – maki aku, yang lainnya terduduk lesu.

Malam itu, semua tidur dikamarku, dempet – dempetan.

Pagi harinya, Kami terbangun karena ibu kost terheran – heran. Pintu kamarku terbuka, sementara kami tidur dah kayak Ikan Peda. Ibu membangunkanku dan yang lainnya, menanyakan ada apa kok bisa tidur dikamarku. Alibi mereka,

‘Nemenin Vie, eh ketiduran’…..

Semuanya kini lebih perhatian padaku. Aku dilarang untuk mengugurkannya. Aku pun tetap pada pendirianku. Aku tetap menjalani semuanya walaupun terasa sesuatu telah hilang dari diriku. Aku tetap belajar naik motor pakai motor Astrea Aini, malah pernah jatuh naik motor Pacarnya Wati di dekat jalan mau ke Lembuswana bawa New Revo. Nekat. Tapi Tuhan memang punya jalan lain. Sesuatu yang ada di perutku tetap pada tempatnya.

Semuanya berjalan biasa….Aku tetap aku…dia, biar dia menjadi sesuatu yang memang dia kehendaki. Aku belum bisa mengatakan apapun pada Bho. Tapi sesuatu terjadi dihari selanjutnya…..

Sesuatu yang sudah aku duga sebelumnya……tapi apa yang sudah kulalui tanpanya, membuatku sadar. Dewa sedang sibuk….aku manusia, Cuma bisa berharap….selebihnya……biar waktu yang jawab…

Andai aku mampu tanpa dia….apakah bisa???

0 komentar:

Posting Komentar