Jumat, 09 Oktober 2009

Ketika si pacar sudah pergi, Beliau mulai berusaha mencari keberadaan si Wanita idaman. Ketemu katanya, tapi si wanita sama sekali tidak meresponnya.

“Padahal, dulu, waktu sakit, saya yang nemenin. Waktu dia minta apa, saya cariin.”

Begitu ceritanya. Beliau menyesal menelantarkan anak dan pacarnya yang kini entah dimana. Waktu sudah memakan semuanya. Si Bapak sampai ga ingat lagi sudah berapa lama tak berjumpa. Sampai dia dengar kabar dari kerabatnya tentang mantan pacarnya itu yang ternyata sudah tiada, meninggal ketika melahirkan buah cinta yang dulu pernah ditolak kehadirannya oleh si bapak.

Sekarang, anak dari mantan pacarnya itu pun menolak kehadiran si Bapak yang notabene ayah kandungnya dan si bapak tidak pernah menikah lagi sampai sekarang.

“Saya bukan tidak mau menikah lagi. Tapi sejak peristiwa itu, saya tau kalau dia meninggal, saya jadi merasa bener – bener berdosa neng. Kayaknya dengan tidak menikah pun belum bisa menebus semuanya. Apa yang dia berikan ke saya waktu itu tulus, kenapa saya begitu bodohnya sampai bisa menelantarkan dia demi mengejar wanita yang jelas – jelas ga menghargai saya sama sekali”, jelasnya.

“Trus apa yang bapak lakukan selama bapak ga mencari mantan bapak?”, tanyaku.

“Ya biasa, kayak ndak ada beban apa – apa, masih suka nongkrong – nongkrong sama temen – temen dulu”, jawabnya.

“Pas dah tau keadaan si ….itu, gimana pak?”, tanyaku.

“Hmmm..bapak ga bisa tidur, dari pas pacar saya pergi juga kayak ada yang ilang gitu. Hanya bapak pikir, Bapak bisa dapat gantinya, Cuma ternyata salah. Dia tak tergantikan Neng”, jawabnya.

“Hmmm….iyh. Sekarang Bapak tinggal dimana?”, tanyaku.

“Di Samarinda, Cuma ada urusan di Balikpapan”, jawabnya.

“Ga pengen nikah aja pak?”, tanyaku

“Saya bisa nikah lagi Cuma saya ga mampu kalau ingat semuanya. Biarlah, ini memang harga yang harus saya bayar karena mengecewakan wanita itu dulu, Namanya Siti”, jelasnya.

“Ya, semoga dia mendapat tempat yang layak ya Pak”, jawabku.

“Pasti Pasti…..saya selalu mendoakannya. Kenangan tentang dia masih hidup di hati saya walaupun anak saya dan dia tidak menerima kehadiran saya, tapi Ibunya telah memberikan pelajaran berharga buat saya. Tidak ada yang abadi di dunia ini Neng, jadi jangan sia – siakan yang ada dipelukanmu sekarang”, ujarnya.

“Iyh….”, jawabku.

“Sudah punya pacar kah?”, tanyanya.

“Sudah, tapi baru bubar”, jawabku.

“Kenapa? Ini gara – garanya kamu pulang?”, tanyanya.

“Bukan…”, jawabku alibi.

“Ya, semoga dia mendapatkan pencerahan ya nanti”, jawabnya.

Aku Cuma bisa diam, semua memori tentang Bho masih terekam jelas diotakku. Tak sadar, Bis itu pun bergerak melaju dan aku sedang memikirkan apa ini jalan yang terbaik untukku.

“Ya sudah, saya pindah, mungkin kamu ingin sendiri melihat – lihat pemandangan”, ujar Bapak itu.

“Makasih Pak”, jawabku sambil tersenyum.

“Senyummu mengingatkan saya sama mantan saya, terlihat manis tapi sebenarnya menyimpan kesedihan yang luar biasa. Saya mendekati kamu Karena kamu mirip dia, cantik, manis namun kehilangan senyuman dan sepertinya kamu sedang merasakan kesedihan yang entah bagaimana dahsyatnya”, jelasnya.

“Ah, bapak….ga kok. Makasih”, jawabku sambil tersenyum kembali dan memalingkan wajahku kembali ke arah jendela. Kupakai kacamata hitamku, menyembunyikan mataku yang mulai berair karena ucapan Bapak itu. Bi situ sudah melewati Jembatan Sungai Mahakam…

"Ya, dulu teman saya pernah bilang, "Jika kamu dihadapkan dengan 2 pilihan, carilah seseorang yang mencintaimu bukan orang yang kamu cintai. Karena orang yang tulus mencintaimu pasti mengerti kamu, bukan ingin dimengerti"..ingat baik - baik ya", ujarnya

"Ya...", jawabku.

“Senyummu mengingatkan saya sama mantan saya, manis tapi menyimpan kesedihan yang luar biasa”

Huuffttt….apa yang sudah terjadi, mengingatkan ku kembali kepada sosok wanita dimasa lalu Bho.

Namanya Zie, entah nama aslinya siapa. Bho kenal Zie di sebuah situs social bernama Tagged. Entah bagaimana ceritanya, Bho pun ketemuan sama Zie. Tapi Zie tampaknya hanya setengah hati pada Bho. Bho mengenalkan Zie pada sahabat wanitanya bernama Vina yang mungkin sampai detik ini, Vina pun masih berteman dengan Zie juga Bho.

Zie sudah dianggap Bho seperti adiknya, aku tak tau seperti apa arti “adik” buat Bho tapi buatku, itu ga masalah. Tapi Zie jelas mungkin jenis “adik” yang berbeda karena aku pernah menemukan BHo mengirimkan sms ke Zie..

“Adiiiiiikkkkkkkk……Kakak kangeeeeeeeeeeeeeennnnnnn”

Dan ketika aku membacanya, rasanya, campur aduk. Aku jadi merasa seperti orang lain buat Bho saat itu.

Tak sadar, airmataku mengalir. Aku mulai merasakan benar – benar hilang seluruh hatiku saat itu. Tak sadar, ada sms masuk ke HPku.

Vie, Eki niy, PSPnya jadi ga? Lo dah DP seharga 1 PSP, gimana?”, tanyanya

Aku membalasnya dengan menyuruhnya mengirimkannya ke GEIM atas nama Aji, tapi tunggu konfirmasiku. Aku langsung mengirimkan sms ke Bho.

“Sa, itu ada PSP di temenku, Eki. Buat kamu, kan waktu itu aku janji bakal beli PSP buat hadiah dari gaji pertamaku. Kusuruh kirim ke GEIM ya, atas nama Aji”

Terkirim….dan tak lama, balasannya pun kuterima…

“Ga usah, jangan kirim ke GEIM, simpen aja dulu sama dia. Nanti kita ambil sama – sama trus kita mainin bareng – bareng pas kamu balik ke Samarinda, ya?”

Aku tidak membalasnya…..aku Cuma bisa terdiam, menangis…….

‘Aku belum tentu kembali, Sa’……

Air mataku mengalir deras, membuyarkan pandangan mataku akan keindahan kota yang selama ini memberiku semangat yang akan segera kutinggalkan bersama semua ketulusan cintaku untuk seorang manusia berpangkat dewa bernama Bho….

FAREWELL LOVE…..this is a farewell ????

0 komentar:

Posting Komentar